Safety First

Kalo membaca judulnya, udah ada gambaran kan tentang isinya?? Tapi sebelumnya ide2 tersebut ditahan dulu aja ya!!!! Setelah membaca aja baru dikeluarkan.. Ok!!

Ini juga merupakan sebuah catatan yang hampir saja terlewatkan. Tepatnya ini terjadi pada tanggal 27 April kemarin yang merupakan hari terakhir pengambilan data di Rajamandala. Oh ya sebelumnya kegiatan ini adalah kegiatan kantor dalam meningkatkan kinerja dan menambah pengalaman sekaligus melakukan penelitian kecil2an.

Para geologist sangat mengenal sekali Rajamandala, karena keunikan dari Rajamandala itu sendiri jika dilihat dari sisi geologinya. Apa menariknya jangan tanya ke saya karena jawaban yang akan saya berikan tidak akan membuat anda puas malah akan menimbulkan pertanyaan lagi (kalimat pendeknya males ngejawab, hehehehehe. bcanda koq :D). Satu hal yang membuat rajamandala menarik  karena batuan yang terdapat di rajamandala merupakan batuan yang seharusnya terdapat dan berkembang di lingkungan laut. Jadi intinya kenapa Rajamandala menarik karena dulunya (dalam waktu geologi) daerah ini merupakan lautan, sehingga jika kita jalan2 ke Rajamandala kita akan berada di dasar laut dulunya sekitar 25 juta tahun yang lalu selain itu batuan gamping akan sering ditemukan(Batuan gamping secara geologi merupakan batuan yang tumbuh di lingkungan laut dan biasanya digunakan utk buat marmer). Jangan tanya lagi ya keunikan Rajamandala ya!!!🙂. Karena secara geologi Rajamandala cukup menarik dan kebetulan dekat dengan kantor kita, maka daerah studi untuk GPR-pun diputuskan di rajamandala.

Sebelumnya GPR (ground Probing/penetrating radar) merupakan salah satu metoda dalam ilmu geofisika untuk menduga kondisi bawah permukaan dengan memamfaatkan gelombang EM. Lebih jelasnya klik aja disini.

Tapi untuk studi yang sekarang,  kita juga melakukan mapping geologi sebagai masukan nantinya pas interpretasi data. Apalagi mapping geologi ini?? Pasti ada yang bertanyakan?? Ya Mapping geologi adalah membuat peta geologi yaitu sebaran dan jenis batuan bawah permukaan dengan menggunakan data2 yang terdapat di atas permukaan. Datanya adalah outcrop (singkapan) batuan yang ada di atas permukaan. Dengan menghitung strike dan dip dari batuan yang tersingkap, seorang geologist akan dapat bercerita banyak tentang bawah permukaan dan juga bercerita bagaimana hal tersebut bisa terjadi pada jutaan tahun silam. Hebat ya geologi???

Untuk studi yang sekarang ini saya tidak bertindak sebagai seorang geophysicist yang megang alat GPR tetapi alat2 yang saya pegang ketika studi itu antara lain Palu geologi, kompas geologi, catatan dan alat tulisnya, serta GPS handheld. Hanya itu, ya benar sekali pada studi kali ini saya mencoba untuk menjadi seorang geologist (walaupun hanya untuk ngukur strike dan dipnya bukan untuk bercerita).

outcrop

Gambar sebelah ini adalah salah satu singkapan yang terdapat di permukaan, pulpen itu menunjukan arah dari strike si batuan. Batuan yang tersingkap ini adalah batuan pasir kasar yang berseling dengan batuan pasir halus.

Sedangkan foto di bawah adalah, hehehehe (biasa narsis :)), itu foto aku sedang ngecatat hasil dari pengukuran strike dan dip dari ngukurbatuan tersebut.

Kok judul sama isi ga nyambung gini sih?? Ini baru isi yang sebenarnya.

Seperti yang telah dituliskan di atas bahwa pada hari yang sama dibagi menjadi 3 tim yaitu, tim geologi, tim GPR, dan tim Magnet. Tim magnet belum dibahas ya?? Kayaknya ga sekarang deh.. Jadi ketika sedang melakukan akuisisi data GPR, langit berubah menjadi gelap, petir pun menyambar-nyambar seolah-olah sedang terjadi keributan di negeri atas awan. (kok berubah gini gaya bahasanya?? lebay banget kata orang2 sekarang, heheheh biar ga serius2 banget :P), jadi intinya ketika sedang melakukan pengambilan data hujan pun turun, deras juga.

Lalu masalahnya dimana?? Sebenarnya untuk tim geologi tidak terlalu bermasalah yang bermasalah adalah pada alat GPR. Karena alat GPR selain dilengkapi oleh antena receiver dan transmitter, alat GPR juga terhubung langsung dengan laptop. Karena radargram dari hasil pengukuran langsung di save ke laptop. Sekarang udah melihat masalahnya kan?? Tim GPR ketika itu tidak membawa ponco ataupun benda apapun yang kedap air yang dapat melindungi laptop dan alat GPR dari hujan. Sebenarnya kita (semua tim) berada dalam satu area yang sama, cuma berbeda titik pengukuran saja. Ketika itu jarak secara horizontal antara aku dengan tim GPR lebih kurang 30-50 meter itu kalo di kontur yang datar, sedangkan kontur daerah pengukuran seperti gambar di bawah.

rajamandala

Garis kuning merupakan lintasan dari GPR ketika itu sedangkan titik warna pink di kanan atas adalah titik saya berada ketika hujan. Karena tim GPR tidak membawa ponco ketika itu, maka aku pun secara reflek langsung mengambil ponco yang ada di tim, Kalo kita liat dari gambar, untuk bisa sampai ke tempat GPR kita harus muterin lembah dulu yang lebih kurang dalamnya 15-20 meter. Tapi karena hujan udah keburu deras, maka tanpa pikir panjang lembah itu pun dilewati dengan lumayan sangat buru2 agar cepat nyampe di t4 GPR karena jika tidak bisa tau kan yang akan terjadi???(garis putus2 warna putih merupakan jalur yang dilewati utk menuju ke tempat GPR).

Hujan yang lumayan deras, jalan yang lumayan curam dengan kemiringan lebih kurang 60-70 derajat, dengan permukaan jalan yang becek dan tanah yang tidak padat, serta adanya pegangan. Itu semua harus dilewati hanya untuk menyelamatkan alat GPR. Sekali lagi demi GPR..(bukan demi yang lain, kalo demi yang lain yang saya tau bunyinya seperti ini “gunung akan ku daki, lautan-pun akan kusebrangi semua ini kulakukan hanya demi …………” ini baru lebay banget :))

Dan ini berlaku untuk semua alat2 yang digunain dalam geofisika, karena tanpa adanya alat, seorang geofisika di lapangan tidak akan memperoleh apa-apa.. Jadi untuk menjadi seorang geophysicist mereka harus mengetahui hal ini, bahwa yang namanya alat harus diselamatkan terlebih dahulu, sampe2 ada alat geofisika yang dalam mobilisasi mempunyai tempat khusus tersendiri kalau tidak harus dipangku oleh orang agar si alat tidak mengalami gangguan yang begitu besar ketika dalam mobilisasi. Untung aja GPR ga kayak gini…

BTW ada yang tau ga alat geofisika apa yang harus dijaga dengan penjagaan yang superketat tersebut????

4 thoughts on “Safety First

  1. Ndak tau alat apa ntu mas..
    Coale ane lagi srius mandangi gambarnya ntu..,bikin ane pengen dolan-dolan..wae..wkxkxkxkxkxkx..

    Mas alat ini namanya GPR yang digunakan untuk memperkirakan bawah permukaan. Nanti akan saya upload foto alatnya biar jelas.

  2. Wadooooowww…!!!!
    Siapa yang dorong gue ?! *celingak-celinguk*
    Tapi ga apa-apa koq.
    Blognya bagus…nanti kesini lagi ah *ngeloyor pergi*

    Jangan tuduh saya mas, saya ga ngedorong !!🙂
    Makasih ya atas komennya, ditunggu lagi kunjungan selanjutnya, Insya4JJI saya akan kunjungan balik.

  3. Thanks materinya oke… bisa konsultasi soal geofisika gk Bang, soalnya ms awam ne, br smstr 5, tek Tambang Undana, Kupang

    makasih ya udah mau mampir dan ninggalin jejak.. jgn konsultasi dong kata yang digunain, lebih baik sharing aja yah, soalnya saya juga masih banyak yang belum saya ketahui di ilmu geofisika ini.. Silahkan ajah kalo ada pertanyaan atau apa, tanyakan saja, jangan sungkan, saya usahakan untuk menjawab..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s