GPR on Water

Lama tidak menulis, membuat keinginan untuk menulis menjadi-jadi apalagi ide tulisan telah ada sejak dulu, makanya sebelum menguap semua lebih baiknya dituliskan disini ajah.

Berikut ini masih tentang apa yang aku alami di kantor 2 minggu kemarin dan masih tentang GPR. Mengapa tentang GPR karena GPR merupakan alat yang kita miliki sendiri (import dari swedia) dan merupakan salah satu metoda geofisika yang masih relatif baru di Indonesia untuk penerapannya di bidang eksplorasi, terutama eksplorasi bahan tambang dan batu bara. Karena alasan itulah, sekarang ini kami berusaha untuk melakukan inovasi-inovasi mengenai GPR (mumpung kondisi global yang tidak mendukung di bidang pertambangan dan perminyakan, makanya kita melakukan inovasi2) terutama untuk akuisisi data dan processingnya, agar ketika dipasarkan nantinya kami memiliki confidence yang tinggi baik secara teori maupun aplikasi untuk memasarkannya.

Kalo secara teori kami telah yakin dengan konsep yang telah ada, masalahnya sekarang adalah apakah teori yang telah dipahami bisa ga kami applikasikan dengan baik di lapangan?? Karena selain alat yang baru, segala sesuatu yang tidak diinginkan juga dapat terjadi di lapangan. Dan sekarang ini kami sedang mencoba untuk menekan kesalahan2 yang dapat terjadi di lapangan nantinya selain menemukan suatu hal baru yang efektif dan efisien yang dapat memberi nilai lebih kepada kami dibanding perusahaan lain yang bergerak dibidang yang sama khususna GPR.

Setelah pengukuran selesai di Rajamandala (walaupun datanya belum diolah lebih lanjut), Selanjutnya kita mencoba untuk melakukan akuisisi data di sungai, tujuan utamanya adalah dapat memetakan stratigraphynya minimal batimetri si sungai. Sebelumnya dilanjutkan, pada penasaran ga, gimana caranya ngukur di sungai???? Penasaran? 3X

Kalo penasaran inilah hasil modifikasi kita agar dapat ngukur di sungai.

persiapan Foto sebelah merupakan persiapan kita, jadi kita menggunakan rakit untuk letak si antena dan menggunakan perahu karet dengan 6 orang pendayung dan 1 orang operator, perahu karet dan rakit dihubungkan dengan seutas tali. Oh iya yang warna biru itu Laptop akan disambungkan ke alat dan  digunakan sebagai radargram kita nantinya ketika pengukuran.

Sedangkan gambar berikutnya adalah antena dari GPR (transmitter dan receiver) tersebut, lebih kurang jarak dari transmitter yang berada di belakang dengan receiver yang berada di depan 6 m.

antenaFoto ketiga adalah personil yang mendayung di perahu karet dengan 1 orang operator alat (saya juga jadi operator, tapi tidak ada fotonya :(() di tengah-tengah pendayung Alasan kita untuk menggunakan perahu karet adalah untuk menekan biaya, karena jika kita menyewa perahu motor, harganya lumayan mahal juga untuk satu hari, sedangkan untuk menghasilkan suatu data yang bagus tidak cukup satu hari makanya pimpinan proyek memutuskan untuk memakai perahu karet sekalian refreshing (hehehehehe).

readyBy the way, pembaca pada tau ga saya yang mana di foto?? Jawabnya lewat komen ajalah ya?? (ketahuan ngarep komen, hehehehehehe).

Sebenarnya hasil yang kita dapatkan dari pengukuran GPR di sungai tidak seperti yang diharapkan karena data yang kita dapatkan tidak memberikan informasi yang begitu berarti. Kalo demikian apakah ada yang salah???

Makanya di awal tadi telah disebutkan bahwa apa yang kita ketahui secara teori belum tentu dapat diterapkan seratus persen dengan baik ketika di lapangan (sebenarnya kitanya aja yg masih belum mengeksplor terlalu dalam alatnya).

Walaupun kita belum menghasilkan apa yang diharapkan, tetapi setidaknya kita tau akan kekurangan kita sekarang. Lebih baik kita salah terlebih dahulu sebelum kita bener2 terjun ke lapangan yang sebenarnya karena kalo salah ketika pengerjaan tender, nama perusahaan bisa rusak, benar ga???

Berarti sekarang saya sudahi dulu aja postingan yang ini, mau belajar ttg GPR lagi ni (hehehehehehehe).

2 thoughts on “GPR on Water

  1. ondeh, santiang sasek ambo mambaconyo.
    GPR tu apo, son? alat mangukua a?
    *gauik kapalo nan indak gato*

    Koq bisa sasek uni???? GPR itu singkatan dari ground probing/penetrating radar. Jadi iko merupakan salah satu metoda untuk menggambarkan bawah permukaan, kedalaman yang dapat dipetakan sesuai dengan frekuensi yang kita gunakan kalo yang kami gunain frekuensinya lebih kurang 25 MHZ jadi penetrasi kedalamannya lebih kurang 30-50 meter.
    Sekarang indak gauik kapalo kan Uni???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s