Gunung sebagai Pasak

Bismillahirahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr Wb

Terakhir menulis di sini pada Januari 2011 dan sekarang sudah April 2012, so blog (baca: palanta) ini hibernasi lagi 1 tahun 3 bulan, padahal tulisan terakhir pada January tersebut tentang hibernasi juga. huhhhh -_-“, rupanya hibernasi itu terjadi lagi setelah tulisan tersebut, hehehehehe. Ga mau beralasan ini itu, pokoknya sekarang do the best ajah semoga bisa istiqamah (ini yang susah fren).

huhfff (ngelap keringat), akhirnya selesai juga bersih-bersih palanta ini dari jaring laba-laba, debu yang sangat tebal, dan mengganti kayu-kayu yang lapuk (perSONIfikasi banget, yang mPunya blog kan emang si Soni hehehehe, biar enak dibaca ajah, kan ini bukan thesis atau disertasi jadi casual ajah, heheheheheh :D). So sebelum dilanjutin tulisannya harus diceritain dulu nih motif kenapa menulis lagi, pada mau tau ga? mau aja ya, begini ceritanya..

Pada suatu hari, pada hari jumat (tanggal 20 April 2012) seperti biasa kami (baca: mahasiswa post graduate UTP yang berasal dari INDOnesia) mengadakan pertemuan rutin (baca: pengajian) yang tujuan utamanya selain meningkatkan pemahaman KeISLAMan kami adalah untuk charging of spirit and power each other among us here at UTP, simplenya adalah pertemuan untuk mengetahui kabar dari saudara sebangsa dan seaqidah disini. Kebetulan pada tanggal tersebut, topicnya sangat menarik sekali yaitu Ilmu pengetahuan dalam ISLAM (kalo pembicara ngasih judulnya Science dalam ISLAM, betul kan kang Kus? :D). dalam presentasi tersebut dikatakan yang membedakan antara scientist dari Islam dengan scientist non-Muslim adalah faktor keimanan. Bedanya disini adalah dengan Iman maka kita percaya bahwa setiap yang terjadi dalam alam semesta dan dalam science diatur oleh yang Maha Mengatur dengan sangat rapi dan teratur tetapi orang non-Muslim yang tidak beriman mereka mempercayai bahwa setiap kejadian dan penemuan dalam science terjadi secara Natural. Natural yang mereka maksudkan disini adalah terjadi karena faktor alam itu tersebut tanpa ada yang mengatur sehingga itu terjadi.  (pada bingung ga? kalo bingung ntar kita bisa diskusi koq ;))

Selesai presentasi materi, sesi pertanyaan dan tanya jawabpun dibuka. Berhubung yang mengikuti pertemuan rutin ini adalah peneliti-peneliti muda dari INDONESIA yang berjiwa kritis dan memiliki cita-cita mulia untuk “Mengislamkan kembali Ilmu pengetahuan” (mas Akbar saya pinjam kata-katanya ya) (semoga ALLAH menggenggam setiap Impian kita semua dan menijabahnya kelak Amin YRA), maka sesi tanya jawab diisi dengan berbagai macam pemikiran-pemikiran yang mengkorelasikan setiap hasil penemuan dalam science dengan AL-Quran Nur Karim. (Serius saya takjub dan suka banget sesi ini, apalagi dengan istilah-istilah yang dilontarkan olehcBung Ahmad Radikal Akbar,  walaupun roommate saya tapi itu bener2 buah pikiran beliau sendiri tanpa ada campur tangan saya, hehehehehehehehe, Peace Mas Akbar).

Awalnya saya cuma diam dan mendengarkan setiap pemikiran yang dilontarkan oleh kawan2 (calon-calon ilmuan besar Muslim, AMin YRA), dari pemikiran dan korelasi tentang stress (force and area), potential and kinetics energy, kosmology, physics, chemistry, Nuclear, electronic, sampe earth), nah pada bagian earth yang kebetulan bagian yang pernah saya cicip (kalo masih cicip berarti masih luar-luarnya loh, masih banyak ga taunya) dulu dan sekarang😀 ada pertanyaan rupanya. Pertanyaannya dilontarkan oleh bapak Julendra (Ph.D candidate, semoga dilapangkan oleh ALLAH perjuangan Bapak Jul untuk meraih gelar tersebut, Amin YRA). Pertanyaannya lebih kurang begini “kenapa dalam AL Quran gunung-gunung dikatakan sebagai pasak-nya bumi” dan korelasinya dengan ilmu kebumian apa?” Aha pertanyaan tentang bumi (eits jangan pikir saya tau jawabnya, saya malah bingung dengan pertanyaannya) hehehehhe, karena itulah tulisan ini ada dan blog ini hidup bersih lagi.

Ayo kita mulai analisa pertanyaan dari Bapak Julendra dan pernyataan Al Quran yang menyatakan hal tersebut. Kita mulai dari Surat An-Naba ayat 6-7

Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan (6) dan Gunung sebagai pasak (7).

Pada ayat ini pasak disebut menggunakan Autaadan (isim mashdar) yang menyatakan benda. Selain itu pada Surat An-Nahl 15, Al Anbiya 31, dan Luqman 10 juga menyatakan gunung sebagai pasak beserta fungsinya.

Dan Dia menancapkan (Alqa) gunung (rawasi) di muka bumi (Al Ard) agar bumi itu goncang (tamiida) bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk. (An-Nahl 15)

Dan Kami telah menjadikan (Ja’alna) di bumi ini gunung-gunung (rawasi) yang kokoh agar ia tidak guncang (tamiida) bersama mereka, dan Kami jadikan (pula) di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (Al-Anbiya 31)

Dia menciptakan langi tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya dan Dia meletakankan (Alqa) gunung-gunung (Rawasi) di permukaan bumi agar ia (bumi) tidak menggoyangkan (Tamiida) kamu, dan memperkembangbiakan segala macam jenis makhluk bergerakan yang bernyawa di bumi. Dan Kami turunkan air hujan dari langit lalu Kami tumbuhkan adanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.

Dari An-Naba ALLAH mengatakan kalau bumi sebagai hamparan dan gunung sebagai pasak. Pada An-Nahl, Al-Anbiya 31, dan Luqman 10 dijelaskan fungsi dari gunung adalah agar tidak mengguncangkan. Sekarang hubungannya dengan ilmu kebumian apa ya? *thinking… (pada bertanya-tanya? saya juga bertanya-tanya, daripada bertanya-tanya lebih baik continue to read ajah).

Dalam ilmu kebumian, teori yang menyatakan kalau bumi bergerak baru diterima oleh para ahli kebumian sekitar tahun 1960-an, tetapi teori itu telah dinyatakan oleh seorang meteorologist Jerman (Alfred Wegener, 1915) yang mengatakan kalau bumi bergerak. Dasar dari wegener mengatakan itu adalah dia melihat bentuk dari benua Amerika Selatan dengan Afrika (perhatikan bagian Timur dari benua Amerika Selatan dengan bagian Barat benua Afrika, kalau kita gabungkan keduanya maka kedua benua tersebut akan menyatu), selain itu wegener juga memperlihatkan hasil tenemuan flora dan fauna yang sama yang dapat ditemukan di kedua benua, iklim dan jenis batuan (dari batas kedua benua tersebut). Dari apa yang ditemukannnya, maka dia mengemukan Continental Drift and Plate Tectonic Theory. Dari teori tersebut dia mengatakan bahwa bumi ini pada awalnya cuma memiliki satu benua (pangea), karena adanyacontinental driftmaka bumi ini terbagi atas beberapa benua seperti sekarang.  Teori yang dikemukan oleh Wegener ini pada tahun 1915 baru diterima 4 decade setelahnya yaitu tahun 1960’s.

Studi lapisan bumi menggunakan gelombang seismik (gempa) telah membuat para ahli kebumian mengetahui komposisi dari bumi. Berdasarkan properti penyusunnya, bumi terbagi atas 3 lapisan yaitu:

  1. Kerak (crust) yang terbagi lagi menjadi kerak samudra (oceanic crust) dan kerak benua (continental crust)
  2. Mantel (mantle) yang terbagi lagi menjadi mantel atas dan mantel bawah
  3. Inti yang terbagi lagi menjadiouter coredaninner core

Sedangkan berdasarkan lithologinya bumi terdiri dari

  1. Lithosfer (bagian bumi padat terdiri dari kerak dan sebagian mantel atas yang keras)
  2. Astenosfer (bagian bumi yang cair tapi viscous (bagian dari mantel atas)
  3. Mantel yang viscous
  4. Inti Luar yang cair
  5. Inti dalam yang padat

Sebelum dilanjutkan istirahat dulu ya (nyeka keringat hufff), saya tau jawaban yang dipertanyakan di awal tadi belum terjawabkan. hehehehehehe :p. Memang belum masuk intinya nih. So baca sampai habis ya😉

Sekarang mari kita tinjau lapisan bumi yang berdasarkan lithologinya untuk lapisan pertama dan kedua (lithosphere dan astenosphere). Mengapa cuma 2? Sekarang kita analisis teori dari Alfred wegener, kenapa lempeng-lempeng bisa bergerak.

Untuk memudahkannya, sekrang ini skalanya kita perkecil aja ya, mari siapkan baskom dengan air dan beberapa papan yang tipis. Baskom yang terisi air itu kita ibaratkan astenosfer dan papan-papan yang tipis itu lithosfer. Oke semua, can we continue?😀. Sekarang letakan papan-papan tadi diatas air dalam baskom. Apa yang terjadi anak-anak? hehehehehe. Ya benar papan tadi akan mengambang dan bergerak satu sama lain, selain itu akan terjadi juga benturan antar papan kan? Itu pula yang terjadi pada bumi kita ini. Sebenarnya bumi kita ini terdiri dari banyak lempeng yang terapung di atas suatu lapisan cair yang viscous dan memiliki temperature yang tinggi. Lempeng yang mengambang tersebut akan bergerak mengikuti pergerakan pada astenosfer. Ada pergerakan lempeng yang saling menjauh (divergence), saling mendekat dan bertabrakan (konvergen) atau yang saling berpapasan dan bergesek (slip strike).  untuk lebih jelas seperti pada gambar dibawah berikut ini.

Gambar 1. Gambaran pergerakan lempeng bumi dan beberapa efeknya (courtesy: http://science.nasa.gov/science-news/science-at-nasa/2000/ast06oct_1/)

Lalu hubungannya dengan gunung apaan? Hubungannya dengan gunung adalah, gunung merupakan salah satu produk dari pergerakan lempeng tersebut. Sekarang kita lihat pergerakan bumi yang konvergen (saling bertemu). Pertemuan antara 2 lempeng atau lebih akan mengakibatkan beberapa hal salah satunya adalah terbentuknya gunung api. Untuk lebih jelasnya lihat gambar di bawah (lagi, biar enak menvisualisasikannya).

gambar 2. Subduction zones (courtesy : http://blue.utb.edu/paullgj/geog1303/lectures/plate_tectonics.html)

Pada gambar di atas terlihat pergerakan 2 lempeng yang saling bertemu akan mengakibatkan salah satu lempeng menunjam ke bawah (biasanya yang memiliki densisty yang lebih besar dan biasanya lagi lempeng samudra) biasanya tercipta juga palung dan satu lempeng lain akan membubung tinggi ke atas (makanya ada perbukitan dan gunung).

huff akhirnya sampai juga terciptanya gunung secara ilmu kebumian. Btw beberapa pertanyaan yang terpikirkan sebelumnya udah terjawab? Kalo saya sendiri belum terjawab. hehehehehhe

Sekarang mari kita korelasikan dengan Quran Surat An-Naba 6-7, Allah hamparkan bumi dan jadikan gunung sebagai pasaknya. Pada gambar 2 terlihat kan, kalo gunung kita sayat secara vertikal itu sebenarnya seperti pasak. Yang membubung tinggi paling hanya sampai circa 8888 meter dari mean sea level, tetapi yang tertanam ke bawahnya bisa sampai 100 km.  (Pak Julendra, bisa menjawab ga pak?

Sekarang kita hubungkan dengan ayat-ayat yang lain (An-Nahl 15, Al-Anbiya 31, dan Luqman 10). Pada ketiga ayat tersebut ALLAH menciptakan gunung agar tidak terjadi goncangan atas bumi. Saya akan coba membahas per kata dari Ayat tersebut. Kata meletakkan dan menjadikan (Alqa) dalam bahasa arab kata tersebut merupakan jenis fi’il dan itu merupakan  fi’il madhi (dalam bahasa inggris past present) Jadi Allah menciptakan gunung tersebut sudah lama sekali (dalam ilmu bumi juga terciptanya gunung yang merupakan salah satu efek dari pergerakan lempeng membutuhkan waktu bukan setahun, 2 tahun, atau 1000 tahun tetapi jutaan tahun). Dan dalam ketiga ayat tersebut ALLAH tidak menggunakan fi’il mudhari (akan (future tense) dan sedang berlangsung (present tense)). Jadi dari kata meletakkan atau menjadikan ini Gunung itu telah ada sebelum umat manusia ini ada. Buktinya adalah pertemuan Adam dan Hawa pun di Jabal Rahmah bukan? Jadi sebelum Adam dan Hawa diturunkan oleh ALLAH ke muka bumi, jabal rahmah itu telah ada.

Sekarang mari kita lanjutkan untuk menganalisa kata agar (An) tidak guncang (tamiida).  Tamiida dalam bahasa arah juga merupakan jenis fi’il dan fi’il ini adalah fi’il mudhari (present tense). Sebelum dilanjutkan mari kita balik lagi kepada papan-papan yang kita apungkan di baskom tadi. apa yang terjadi ketika papan yang satu dengan yang lain bertemu? Ya terjadi tabrakan dan goncangan. Tetapi pada bumi kita, pertemuan dari lempeng tadi mengakibatkan terbentuknya gunung-gunung sehingga pertemuaan dari kedua lempeng tadi tidak menyebabkan terjadinya guncangan. Sekarang coba kita pikirkan kalo lempeng-lempeng di bumi seperti papan-papan yang terapung di baskom, apa yang akan terjadi? Jika setiap pertemuan dari lempeng tidak menciptakan suatu gunung, maka guncangan di bumi kita akan terjadi terus-menerus tetapi karena pertemuan dari 2 lempeng atau lebih yang bertemu yang mengakibatkan terciptanya gunung sebagai pasak (yang juga tertunjam ke dalam) maka goncangan-goncangan itu tidak terjadi. eitsss tunggu dulu, sebelum ada pertanyaan tentang kenapa ada earthquake saya akan coba jelaskan lagi. So keep patient ya. hehehehhe

Kata tidak guncang dalam ketiga ayat diatas adalah “tamiida” yang merupakan fi’il mudhari. Fi’il mudhari merupakan kata kerja yang terjadi sekarang ini atau kedepannya. Jadi jika menggunakan fi’il mudhari maka peluang untuk terjadi guncangan masih ada. Ibaratnya seperti ini, Saya tidak makan sekarang. Sekarang kita memang tidak makan tetapi kemarin kita makan bukan dan kedepannya kita juga akan makan bukan? Begitu juga dengan bumi kita ini, sekarang bumi ini tidak berguncang, tetapi sebelum-sebelumnya bumi kita ini berguncang loh dan kedepannya peluang untuk berguncang lagi pasti akan terjadi.  Yang ingin saya tekankan disini adalah, ALLAH TIDAK MENGGUNAKAN FI’IL MADHI dalam kata tidak berguncang. Jadi sekali lagi saya tekankan peluang bumi untuk berguncang masih ada.

Untuk menguatkan ayat penjelasan di atas saya akan tambahkan satu ayat lagi dari Surat  An-Naml ayat 88

Dan engkau akan melihat gunung-gunung yang engkau kira tetap ditempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan ALLAH yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, dia Maha teliti apa yang kamu kerjakan.

Dari ayat diatas ALLAH tekankan, Gunung-gunung yang fungsinya agar bumi tidak berguncang (terus-menerus) sebenarnya masih bergerak dan dalam ilmu kebumian sekarang pun, bumi kita ini masih bergerak. Lempeng-lempeng di bumi ini masih saling bergerak satu sama lain. Oleh karenanya Earthquake, landslide, volcano eruption, dan lain sebagainya adalah bukti kalo bumi kita masih bergerak.

Wallahu’alam Bishowab

Semoga dapat berguna, jujur saya juga masih harus banyak belajar dan masih banyak ketidaktahuan saya. Jadi mohon maaf kalau ada yang kurang tepat. Saya sangat senang sekali jika ada masukan dan diskusi dari sahabat-sahabat yang lain.

Salam Ukhuwah untuk menggali Ilmu pengetahuan

8 thoughts on “Gunung sebagai Pasak

  1. Cantik, alhamdulillah…

    Betul oi, ternyata daratan/benua (yang merupakan kulit tipis dunia) ini yang terus menerus bergerak. Dan gunung yang timbul akibat tumbukan antar benua ini berfungsi sebagai peredam dan pelepas energi sehingga mengurangi goncangan yang terjadi. Saya kira tadinya, karena gunung-lah maka bumi bergoncang. Saya kira tadinya gunung tidak-lah bergerak. Ternyata…

    Saya juga temukan link2 bagus seputar tektonik dalam bentuk animasi singkat (http://youtu.be/ryrXAGY1dmE) dengan informasi yang lebih umum di USGS: (http://pubs.usgs.gov/gip/dynamic/dynamic.html#anchor3819844) dan video amatirannya (http://youtu.be/JmC-vjQGSNM).

    Ketemu juga teori Pangaea Alfred Wegener di web NASA: (http://earthobservatory.nasa.gov/Features/Wegener/wegener.php) yang disimulasikan olah BBC: (http://youtu.be/RuScA58BgRE) dan menariknya, ada juga yang mencoba mematahkan dengan teori Expanding Earth: (http://www.science-movies.com/earth-science-videos/pangaea-theory-is-the-earth-expanding/) meski ada juga yang menjadikannya tema lagu (http://youtu.be/T1-cES1Ekto).

    Terakhir, saya baru sadar bahwa kata “mountain” mirip-mirip dengan kata “mount” yang bila diartikan bebas sebagai tempat bergantung. Ya…. salah satu fungsi jangkar juga ya…
    http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_mountains
    http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_highest_mountains
    http://www.mapsofworld.com/world-major-mountain.htm

    Makasih Soni.

    • kok gunung sahari dari dulu sampai kini masih tetap disitu yaa..???kok ga gerak2 juga..???gunung agung juga….ada juga tambah banyak…dan banyak anak2 suka kesini…:P

  2. kok gunung sahari dari dulu sampai kini masih tetap disitu yaa..???kok ga gerak2 juga..???gunung agung juga….ada juga tambah banyak…dan banyak anak2 suka kesini…:P

  3. Tadi saya lagi ngebayangin baskom sama papan yang tabrakan, pas dikasi liat gambar ternyata itu.. hehehe.. kirain beneran gambar percobaannya Pak Soni pake baskom.. wkwkwk..

    Frase yang tepat “Fi’il Madhi” atau Fi’il Mahdi” ya? Masalah semantik aja, tidak usah diperdebatkan.. he..

    Penjelasan muqoddimah nya mengulang sikit pas kuliahnya Prof Ilik. Thx Son udah mengingatkan kembali.

    Penjelasan mengenai gunung sebagai Pasak, Luar Biasa. Dulu saya pernah membahas ini, dan mirip2 sama Pak Soni. Tapi rangkaian kalimat Pak Soni lebih bagus. Coba nimba ilmu juga sama Pak K.H. Fahmi Basya. Saya juga suka membaca tulisannya beliau. Manteb Son.

    Terakhir, saya dulu ga ngerti pasak itu apa.. hahaha.. coba Pak Soni memjelaskan pasak itu apa, sama ga dengan paku.. wkwkwk… Kalo sama, kenapa ga pake kata paku aja.. apa lebih keren kata pasak? hahaha…

    @Abang Ganteng
    Bang, itu gunung geraknya paling 2cm/thn. Walaupun kecil tapi tetap bergerak. Coba kalo itungannya banyak. Misal dikalikan 1 EM(ber) tahun. Berarti gunung dah bergerak 2 Milyar sentimeter. Berapa kilometer tuh… wkwkwk… Jadi, klo ngomongin bumi, ga bisa itungan bulan, minggu, apalagi itungan hari.. wkwkwk…

  4. Tadi saya lagi ngebayangin baskom sama papan yang tabrakan, pas dikasi liat gambar ternyata itu.. hehehe.. kirain beneran gambar percobaannya Pak Soni pake baskom.. wkwkwk…

    Frase yang tepat “Fi’il Madhi” atau Fi’il Mahdi” ya? Masalah semantik aja, tidak usah diperdebatkan.. he..

    Penjelasan muqoddimah nya mengulang sikit pas kuliahnya Prof Ilik. Thx Son udah mengingatkan kembali.

    Penjelasan mengenai gunung sebagai Pasak, Luar Biasa. Dulu saya pernah membahas ini, dan mirip2 sama Pak Soni. Tapi rangkaian kalimat Pak Soni lebih bagus. Coba nimba ilmu juga sama Pak K.H. Fahmi Basya. Saya juga suka membaca tulisannya beliau. Manteb Son.

    Terakhir, saya dulu ga ngerti pasak itu apa.. hahaha.. coba Pak Soni memjelaskan pasak itu apa, sama ga dengan paku.. wkwkwk… Kalo sama, kenapa ga pake kata paku aja.. apa lebih keren kata pasak? hahaha…

    @Abang Ganteng
    Bang, itu gunung geraknya paling 2cm/thn. Walaupun kecil tapi tetap bergerak. Coba kalo itungannya banyak. Misal dikalikan 1 EM(ber) tahun. Berarti gunung dah bergerak 2 Milyar sentimeter. Berapa kilometer tuh… wkwkwk… Jadi, klo ngomongin bumi, ga bisa itungan bulan, minggu, apalagi itungan hari.. wkwkwk…

    • enterance yg sgt menarik n sgt ilmiah!!,,
      (reply in Bahasa bisa kn? ^^)

      Pada gambar 2 terlihat kan, kalo gunung kita sayat secara vertikal itu sebenarnya seperti pasak. Yang membubung tinggi paling hanya sampai circa 8888 meter dari mean sea level, tetapi yang tertanam ke bawahnya bisa sampai 100 km.

      hmmm,, sy ad terdengar and terbaca pasal ni,,kalo tak silap,,, konsepnya sama dengan ice berg,, ice yg tertanam kat bawah lebih besar compare ice yg kelihatan kn?,,, yg tertanam kat bawah tu utk balancekan gunung tu sendiri,,, sbb tu kalau gunung tu ditarah (being cut),,, structure bumi tidak balance dan menyebabkan bahagian bawah bumi akan being push upward in order to make it balance,, besides my lecturer(Dr Aaron) said,, if the mountain being cutted, it just like reduce the burden of the earth,, therefore the earth tend to release the tension with pushing up the inner part of the mountain. hmmm,, saya lupa term yg digunakan utk process ni apa,, nnt akan dicheck balik…
      (if apa yg ditulis ini salah,, sila bgtau yer,, saya budak yang masih banyak perlu belajar)
      besides, dlm lecture stratigraphy, my lecturer (Dr Xavier,, I’m not sure his name cause he teach us for awhile) ,, he asked us why there is different in level of the crust?[continental and oceanic crust] (why the oceanic crust in 5000m below the sea level and why the shelf or shallow marine only 2000m ? why they are difference in depth although they are from same benua?),, akan disambung after habis test ^^v,, wallauhalam~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s