Persahabatan Kita Kan Abadi Untuk Selamanya Sobat :) Agung Wahyu Saputro (12 January 1987 – 11 January 2013)

Assalamu’alaikum Wr Wb

Bismillahirahmanirrahim,

Hi teman, kawan, rekan, dan sahabat semua. Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan baik dan lancar dalam segala aktivitasnya. Sebenarnya sudah dari lama saya ingin menyapa teman, kawan, rekan, dan sahabat semua. Tetapi banyak alasan yang dapat dikedepankan untuk mencari pembenaran kenapa hal tersebut urung saya lakukan. Jadi sekarang, saya ga mau bahas alasan kenapa baru sekarang dapat menyapa teman, kawan, rekan, dan sahabat semua, karena seperti yang saya katakan di atas tadi seribu satu alasan dapat keluar untuk mencari pembenaran. J

Teman, kawan, rekan, dan sahabat semua, saya ingin bertanya apa yang terpikirkan ketika mendengar kata persahabatan? Saya yakin setiap personal akan memiliki jawaban masing-masing. Mungkin akan ada yang menjawab ketika mendengar kata persahabatan yang terpikirkan mungkin film terbaru 5 cm yang katanya (soalnya saya belum nonton ntu film) nilai-nilai persahabatanya kental banget di film tersebut, atau ada juga menjawab rumah sakit, karena yang terpikir ketika mendengar kata persahabatan adalah Rumah Sakit Persahabatan. Tidak salah juga, karena rumah sakit persahabatan merupakan salah satu rumah sakit yang terdapat di Jakarta Timur di rawamangun kalau saya tidak salah. Pasti banyak lagi hal lain dari teman, kawan, rekan, dan sahabat semua.

Bagi saya pribadi, ketika mendengar kata persahabatan, yang saya pikirkan sekarang adalah seperti judul tulisan ini. Ya benar hal tersebut yang terpikirkan oleh saya sekarang ini dan hingga nantinya untuk seorang sahabat terbaik saya.

“Orangnya sederhana dan ga neko-neko”. Ini merupakan penilai dari Bapak Grandis yang merupakan dosen kami yang menjadi inspirasi saya dan sahabat saya tersebut. Banyak hal yang kami dapatkan ketika diajar oleh Bapak Grandis dan membuat kami memiliki suatu impian yang sama.

Awal pertemuan saya dengan sahabat saya tersebut, Mas Agung Wahyu Saputro namanya tidak ada yang begitu istimewa. Mas Agung kebetulan adik kelas saya yang cuma berjarak setahun dengan saya di universitas, saya angkatan 2004 dan mas Agung 2005. Saya pun tidak ingat kapan persisnya kami mulai begitu dekat, yang saya ingat ketika saya tahun ketiga kebetulan menjadi assisten praktikum beberapa mata kuliah, disanalah kami mulai berinteraksi, ditambah lagi letak kostan kami yang searah dan tidak terlalu jauh lalu saya yang pernah mengambil mata kuliah bareng dengan Mas Agung karena saya tidak lulus mata kuliah tersebut tahun sebelumnya yang akhirnya Mas Agung harus repot karena banyak pertanyaan dari saya yang tidak mengerti pada mata kuliah tersebut.

Seiring perjalanan waktu, diskusi dan sharing apapun yang sering kami lakukan akhirnya kami mulai dekat satu sama lain. Ketika saya dan sahabat saya Hanif Widya Nugraha harus menemani Mas Agung dan teman-teman geofisika angkatan 2005 pada Praktikum mata kuliah Geo-electromagnetism kami bertiga pun menjadi lebih dekat. April 2008, saya pun mendapatkan tawaran dari bapak Hendra Grandis untuk ikut ke suatu penelitian yang dilakukan oleh Pusat Sumber Daya Air di pasuruan Jawa Timur. Ada 2 nama yang ada dalam benak saya yang ingin saya ajak, Hanif dan tentunya Mas Agung. Tetapi ketika itu cuma untuk 2 mahasiswa, walaupun begitu saya tetap menceritakan situasi dan menawarkan kepada 2 orang sahabat tersebut. Karena halangan dan kegiatan lain yang tidak dapat ditinggalkan oleh sahabat saya Hanif, akhirnya saya dan Mas Agung yang jadinya bergabung dalam tim penelitian ke Pasuruan Jawa Timur. Bepergian dengan Agung membuat saya lebih mengenal Mas Agung dan banyak hal yang saya pelajari dari beliau. Mas Agung yang pendiam tetapi sebenarnya perhatian, Mas Agung yang pendiam tetapi sebenarnya sangat penyabar, Mas Agung yang selalu tersenyum dan mudah senyum satu hal lagi Mas Agung yang tidak pernah mengeluh dalam kondisi apapun walaupun dalam kondisi yang tidak fit atau tidak sehat.

Berikut ini beberapa kenanganku dengan mas Agung ketika di pasuruan ketika april 2008,

Mas Agung Wahyu Saputro dalam perjalanan berangkat menuju Pasuruan (atas), wajah kecapean tapi tetap senyum ketika melakukan pengukuran (tengah), dan ketiduran dalam perjalanan pulang dari Tengger Bromo (bawah).

Aku dan mas Agung ketika orientasi daerah penelitian (sama-sama menggunakan jaket Geofisika Lapangan J) (atas) dan ketika bercengkrama dan foto-foto sebelum istirahat di hotel (bawah).

Aku dan Mas Agung ketika stand by di lapangan (atas) dan ketika melakukan pengukuran di lapangan dengan tim (bawah).

Mas Agung Wahyu Saputro ketika di Tengger Bromo.

Aku dan Mas Agung ketika di Bromo Tengger (atas) dan melahap santap siang dengan lahapnya setelah pulang dari Bromo (bawah).

Setelah kami selesai menyelesaikan pekerjaan di Pasuruan, sebenarnya ada perjalanan dan pekerjaan lain yang telah menanti kami dengan tujuan Yogyakarta. Tetapi ketika waktunya datang pada bulan Juni 2008, saya tidak dapat mengikutinya karena saya harus rawat inap di Rumah Sakit satu minggu sebelum harus berangkat ke lapangan. Sedih sekali tidak dapat berangkat ketika itu akhirnya saya merekomendasikan nama ke mas Agung untuk menggantikan diri saya yang tidak dapat ikut dalam penelitian tersebut.

Pada Tahun yang sama, saya mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan salah satu consultant. Sekali lagi nama Mas Agung dan Hanif tetap menjadi prioritas saya. Bukan karena kami teman dekat, tetapi karena ide-ide konstruktif dan cara berfikir dari Mas Agung yang selalu membuat saya untuk mengajak Mas Agung dalam kegiatan yang saya tekuni. Bergabung di salah satu consultant membuat kami harus berangkat pergi dan pulang bareng. Walaupun tidak tiap hari tetapi dengan frekuensi yang sering membuat kami selalu berdiskusi, bercanda, tuker ide, sharing semangat, sharing impian, dan bersama mengejar impian.

Akhirnya maret 2009, saya pun berhasil menamatkan studi S1 saya. Keberhasilan saya dalam menamatkan studi itu pun tak lepas dari bantuan dari Mas Agung ketika preparing draft dan presentation. Menyederhanakan sesuatu yang rumit menjadi lebih sederhana dan mudah dimengerti orang baik dari tulisan dan perkataan, Itu yang disampaikan oleh Mas Agung kepada saya. Kelulusan saya membuat saya harus terpisah dengan Mas Agung. Tanggung jawab pekerjaan harus membuat saya keluar dari Kota Bandung.

Walaupun begitu, kami masih tetap berkomunikasi satu sama lain. Saya tetap menanyakan studi dari Mas Agung, topik apa yang akan dilakukan untuk penelitian S1-nya, dan hal-hal lain. Oh ya teman, kawan, rekan, dan sahabat sebenarnya kami berdua tertarik ke bidang penelitian Magnetotelluric (MT). Tapi sayangnya kami tidak dapat melanjutkan ketertarikan kami di bidang tersebut karena banyak faktor, akhirnya cuma Hanif saja yang melanjutkan penelitian S1-nya di bidang MT tersebut. Selain komunikasi via jaringan social apapun yang banyak di dunia maya, setiap kali saya cuti, Alhamdulillah saya selalu ketemu dengan Mas Agung. Kalau kami telah ketemu hari terasa pendek banget, soalnya banyak hal yang kami ceritakan. Dari pekerjaanku, studinya mas Agung, dan impian-Impian kita yang ingin kita capai bareng.

Saya jadi teringat ketika kami sedang berdiskusi di suasana yang santai. Mas Agung tiba-tiba berkata seperti ini, ” Mas, ayo kita jadi Dwitunggal Indonesia lagi, pasangan Indonesia yang belum tergantikan hingga sekarang Ini, Pasangan yang telah mengantarkan Indonesia meraih kemerdekaan dari penjajah, Pasangan dari Jawa timur dan Sumatera Barat”. Kaget, tertawa, dan semua perasaan bercampur aduk ketika mendengarkan celetukan tersebut. Walaupun Mas Agung menyampaikan dengan simple dan kelihatan becanda, tapi dari ketegasan nadanya dia menyampaikan tersebut, saya yakin itu bukanlah suatu hal yang secara kebetulan yang dia kemukakan. Tetapi merupakan keinginan yang bener2 telah tertanam di dalam hatinya. Teman, kawan, rekan, dan sahabat semua, banyak hal lain yang tidak akan dapat kulupakan ketika bersama Mas Agung.

BERITA ITU MEMBUATKU KAGET DAN TIDAK PERCAYA

Kamis minggu lalu tepatnya tanggal 10 January dini hari, aku mendapatkan kabar dari salah seorang teman di Rusia yang mengabarkan kalau sahabatku Mas Agung sedang terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma. Berita tersebut benar-benar membuatku kaget, kalut, tidak percaya, dan semua perasaan bercampur baur. Saya masih ingat akhir Desember saya masih bercerita dengan Mas Agung dan ketika itu masih dalam keadaan sehat. Tetapi selang 2 minggu, saya mendapatkan kabar seperti itu. Kamis siang saya pun dapat berkomunikasi dengan Ibundanya Mas Agung menanyakan kondisi Mas Agung. Setelah mendapatkan kabar mas Agung dari Ibundanya Mas Agung, saya pun memutuskan untuk nge-book tiket untuk ke Surabaya. Ya tujuan saya hanya satu, untuk bertemu dengan mas Agung, dan membisikan kata semangat untuk sembuh dan melawan sakit yang ia dirasakan.

Jumat pagi pun saya pun preparing untuk berangkat ke Bandara walaupun flight saya pukul 18 tetapi saya harus berangkat lebih awal dari rumah, karena saya tinggal jauh dari bandara, minimal harus berangkat 5 jam sebelum waktu check in. Sekitar pukul 11, saya pun pergi ke counter ticket bus untuk membeli tiket bus, tetapi yang saya dapatkan dari petugas bus, Tiket bus untuk pukul 14 sudah habis dan baru ada sejam setelahnya atau pukul 15. Berangkat pukul 15 untuk mengejar pesawat yang akan terbang pukul 18 sangat mustahil sekali. Saya pun mencoba untuk mencari oto bus yang lain. Tetapi oto bus yang lain memiliki jadwal yang lebih telat lagi, baru akan berangkat pada pukul 17. Akhirnya, saya pun memutuskan harus berangkat menggunakan train yang jarak antara rumah dengan station itu lebih kurang 20 menit. Permasalahan untuk pergi ke station di tempat saya adalah, tidak adanya transportasi umum dan taxi yang susah untuk didapatkan. Akhirnya, saya minta tolong kepada salah seorang teman untuk mengantarkan saya ke station untuk mengejar kereta yang akan berangkat pada pukul 13.14 ketika itu jam tangan saya menunjukan pukul 12.40 menit dan hari itu adalah hari Jumat dimana waktu jumat disini pada pukul 13.30. Mepet, ya benar-benar sangat mepet sekali waktu yang tersedia. Ketika hampir tiba di station, saya pun melihat kereta yang akan ditumpangi bergerak mendekati station. Kereta berhenti dan saya pun loncat dari mobil yang masih jalan dan belum berhenti karena ingin mengejar kereta tersebut. Ketika sampai di counter penjualan tiket, yang menjaga mengatakan “It’s not enough time for this train”. Saya pun sebenarnya dapat memakluminya karena disini untuk menaikan dan menurunkan penumpang itu hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit (26-30 detik). Pertolongan ALLAH pun menghampiri saya, saya tidak tau apakah beliau itu kepala station atau tidak, tetapi ketika melihat saya di counter tiket, dia pun menanyakan kepada petugas counter ticket, any passenger? Ketika menanyakan hal kepada penjaga counter ticket, sang penjaga counter tiket pun menunjuk diri saya. Alhamdulillah, beliau pun menyuruh sang penjaga tiket untuk issued ticket untuk diri saya. Alhamdulillah, saya benar-benar bersyukur. Ketika dalam perjalanan membuat saya semakin yakin, saya harus segera ketemu dengan Mas Agung dan ALLAH telah menolong saya untuk bisa segera bertemu dengan Mas Agung. Tiba di Bandara sejam sebelum take off. Ketika akan check in, saya melihat antrian check in yang mengular. Sekali lagi ALLAH menolong saya dengan mempertemukan saya dengan seorang teman yang juga sedang antri check in tetapi telah berada di antrian bagian depan. Ketika bertemu dengan teman tersebut, sang teman pun menawarkan untuk check in bareng. Alhamdulillah, Allah memberikan pertolongan lagi untuk saya agar dapat segera bertemu dengan Mas Agung, memberikan semangat untuk Mas Agung agar kembali sembuh.

Penerbangan Kuala Lumpur – Surabaya yang hanya 2 jam 50 menit terasa lama sekali. Apalagi battery laptop saya yang hanya bertahan 1 jam karena tidak full membuat saya tidak dapat melakukan hal lain selama penerbangan tersebut. Akhirnya sisa penerbangan tersebut hanya dapat diisi dengan memanjatkan do’a dan zikir kepada ALLAH hingga terlelap. Akhirnya pukul 20 lewat beberapa menit, pesawat yang saya tumpangi itu pun mendarat di Bandara Juanda. Ketika pintu pesawat terbuka saya pun bersegera untuk keluar dan mempercepat langkah menuju bagian imigrasi karena perjalanan masih harus saya lanjutkan ke Tulungagung yang berjarak 4 jam menggunakan Bus dari Surabaya. Walaupun ini perjalanan pertama saya ke Surabaya, Alhmdulillah saya telah menanyakan beberapa informasi kepada teman mengenai Surabaya dan bagaimana mencapai Tulungagung. Lebih kurang pukul 22 saya pun tiba di Terminal Purabaya (bungurasih). Tidak mudah untuk menemukan bus menuju Tulungagung, karena dari beberapa informasi bus terakhir menuju Tulungagung itu pukul 22 dan baru akan ada lagi pukul 2 dini hari. Melihat jam tangan saya yang telah menunjukan pukul 22, saya pun berdo’a semoga masih ada bus yang masih menuju Tulungagung. Akhirnya saya pun bergerak menuju platform lain sambil memperhatikan bus-bus yang menuju Tulungagung. Sekali lagi tidak lama saya menemukan sebuah Bus Ekonomi yang tertulis di kaca depannya Surabaya Trenggalek, ketika saya tanya, apakah melewati Tulungagung, sang kondektur pun menjawab lewat. Akhirnya saya pun naik bus tersebut. Tidak lama setelah menaiki bus tersebut bus itu pun berangkat menuju Tulungagung. Sepanjang perjalanan, diriku pun tidak bisa terlelap hingga sampai Tulungagung pada pukul 2 dinihari. Turun dari bus, saya pun melanjutkan perjalanan menuju Rumah sakit yang telah saya dapatkan tempat Mas Agung dirawat.

Tidak lama menemukan alamat dari rumah sakit tempat mas Agung dirawat yang saya dapatkan sebelumnya. Sesampai disana saya pun segera menuju bagian informasi (saya tidak sadar kalau ketika itu telah menunjukan pukul 2.30 dini hari). Saya hanya menemukan bagian informasi yang sudah gelap dan tidak ada orang. Saya pun menyusuri setiap bagian rawat inap dari rumah sakit dan hasilnya nihil. Ya saya tidak menemukannya. Tanya beberapa anggota keluarga pasien yang belum tidur, tetap saja tidak menemukan jawaban. Mau tidak mau saya harus ngecharge hp ini agar dapat menghubungi keluarga dari Mas Agung. Lebih dari 30 menit saya ngecharge hp. Pukul 3.17 saya pun menelpon Ibunda dari Mas Agung untuk menanyakan tempat Mas Agung di rawat. “Assalamu’alaikum ibu, ini soni. Maaf telpon ibu pagi-pagi, ingin tanya kondisi Mas Agung sekarang gimana ya Bu?” diseberang telpon, Ibunda Mas Agung menjawab, “Wa’alaikumsalam, Mas Agungnya kan sudah ga ada lagi (diiringi dengan tangis)”. “Innalillahi wa innailahi rajiun”, dan aku pun beristigfar berkali-kali mendengarkan jawaban seperti itu dari Ibunda Mas Agung. Tanpa pikir panjang aku pun menanyakan alamat rumah tempat Jenazah akan diselenggarakan. Setelah mendapatkan alamat tempat jenazah akan diselenggarakan (desa krandegan, bendolrejo, trenggalek) yang berjarak 1 jam perjalanan dari Tulungagung. Aku pun bingung harus naik apa menuju kesana, soalnya ketika jarum jam di tangan ku belum menunjukan pukul 4 pagi. Alhamdulillah sekali lagi, ALLAH menolongku agar dapat bertemu dengan Mas Agung, seorang tukang parker menawarkan diri untuk mengantarkan diriku ke trenggalek dengan motornya tanpa ada tawar-menawar sebelumnya. Niat baik dari tukang parkir itu pun aku jawab dengan ucapan terima kasih dan sebelum kami berangkat, saya pun menyebutkan suatu nominal dengan nada bertanya kepada mas tukang parkir tersebut. Tanpa ada tawar-menawar, mas tukang parkir itu pun menyetujui dan kami pun berangkat menuju trenggalek menggunakan motor.

Ketika akan sampai di jalan propinsi yang menghubungkan antara kota di jawa timur, sebuah bus meluncur ke arah trenggalek, “itu bus ke Trenggalek Mas” ucap mas tukang parkir yang membonceng saya. Akhirnya mas tukang parkir itu langsung menambah kecepatan sepeda motornya untuk mengejar bus yang dimaksud. Alhamdulillah bus itu pun dapat disalip dan berhenti. Ketika saya ingin memberikan sejumlah uang kepada mas tukang parkir yang telah membonceng saya untuk mendapatkan bus tadi, dengan tegas dia menolak itu dan menyuruh saya untuk segera naik ke atas bus. Dengan setengah memasak saya meminta mas tersebut untuk menerima uang tersebut, tetapi lagi dia menolak dan mengatakan tidak usah. Disini saya masih merasakan keramahan penduduk Indonesia.

Lebih kurang 30 menit perjalanan menggunakan bus, aku pun tiba di perempatan Bendolrejo Trenggalek dan Alhamdulillah, ibunda Mas Agung telah meminta seorang ponakannya untuk menjemputku di perempatan tersebut. Sayup-sayup azan shubuh pun terdengar ketika melanjutkan perjalanan menuju rumah Mas Agung. Sesampai di rumah Mas Agung, “Assalamu’alaikum”, ucapku sebelum memasuki rumah tersebut, lalu seorang bapak paruh baya langsung berdiri dan memeluk ku. Ya bapak tersebut ada bapaknya Mas Agung. Teman, kawan, rekan, dan sahabat, di ruangan tersebut aku melihat Sahabatku, Mas Agung telah terbaring kaku dan telah terbungkus oleh kain putih. Tetapi sebelum aku melihat jenazah Mas Agung, aku pun izin untuk sholat shubuh terlebih dahulu.

Sepulang dari masjid sesudah sholat shubuh, aku pun melihat Jenazah Mas Agung lebih dekat lagi, merasakan tubuh yang telah dingin dan kaku. Langsung terlintas di benak saya sebuah nasehat dari imam Ghozali, ” yang paling dekat dengan kita adalah kematian dan yang paling jauh dengan kita adalah masa lalu”. Ketika memegang jenazah Mas Agung, semua kenangan dengan mas Agung semuanya langsung tergambar di memori ini. Semua canda tawa ketika kita berdiskusi mengenai hal apapun teringat kembali. Tak terasa di air mata ini pun menetes.

Tidak akan ada lagi diskusi, canda tawa, cengkrama, atau pun komunikasi-komunikasi untuk mengejar cita-cita yang telah pernah kita coret-coret bareng, kita share bareng, dan yang ingin kita capai bareng. Mas Agung Wahyu Saputro, selamat jalan sahabatku, Aku akan merindukan waktu-waktu yang pernah kita jalani bareng, akan merindukan senyuman mu, merindukan celetuk-celetukan dirimu, dan semua hal tentang dirimu. Terima kasih atas persahabatan yang telah kita jalani bareng, terima kasih atas sharing ilmu, sharing pengetahuan, sharing ide yang pernah kita lakukan. Aku lanjutkan semangatmu, mudah-mudah aku dapat melakukannya, dan dapat menggapai impian yang pernah kita ucapkan. Semoga Khusnul Khatimah dan tenang di sisi-NYA.

11 thoughts on “Persahabatan Kita Kan Abadi Untuk Selamanya Sobat :) Agung Wahyu Saputro (12 January 1987 – 11 January 2013)

  1. Setelah Baca cerita ini, semoga persahabatan Mas Soni dan Mas agung akan selamanya Abadi, itulah arti persahabatan yang sesungguhnya mas….. semoga Allah Menerima Segala Amal Kebaikannya dan Semoga yang ditinggalkan mendapat ketabahan.

  2. Makasih ceritanya son. Mengobati kerinduan masa lalu. Pertama ketemu Wahyu udah ga ingat lagi. Tapi yang jelas ini juragan internet di kosan kita. Karena Wahyu lah kita bisa gunakan internet di kosan. Pertama dan satu-satunya. Buat tugas kuliah, ngegame, bisnis, dll. Banyak kenangan tentunya.

    Allah SWT sudah lebih dulu mengambilnya. Semoga kita mengambil hikmah besar dari kawan kita ini. Amiin YRA.

    Tengkyu buat Uda Soni.

  3. sonny, saya juga salah satu kakak kelas yang jauhh sekali angkatan nya dengan kalian dan berkesempatan bekerjasama dengan agung bahkan sebenarnya masih terlibat hingga desember kemaren saya masih ketemu beliau berbicara pekerjaan ini. tentu, karena satu jurusan geofisika hubungan kami pun lebih akrab dari sekedar hubungan partner. saya juga ada di surabaya saat itu, namun saya tidak sempat ke tulung agung, saya pun kaget luar biasa mendengar kabar beliau koma. saya sempatkan kirim whatsapp..berharap beliau nanti bangun bisa baca dukungan temen2 ke pada beliau… sampai saya terima sms pagi2 dari agung prihadi.. ya Allah.. saya shock..dan rasanya gak bisa berpikir jernih lagi. saya tidak punya kontak keluarga beliau.. melalui blog ini, kepada sony..sampaikan juga rasa belasungkawa saya dan civitas Syna teknika ITB. semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

    • Amin YRA saya ikut mengaminkan do’a Bang Eriko untuk sahabat saya Mas Agung.

      Bang Eriko, saya kenal dengan abang, ketika itu ikut hadir ke pernikahan Bang Eriko di Cianjur walaupun telat.

      • Wah serius sonny:) saya malah gak hapal. Maaf yaaaa bukan sombong maklun da tua🙂. Dunia gak gede ya..somny kenal saya, saya kenal almarhum, dan almarhum temen deket sonny. Amazing. Sepertinya almarhum akan senang disana. Btw. Gak nyangka tulisan nya banyak juga. Ntar saya baca ya. Saya juga lagi ngumpulin ceritera saya ketika jaln2 . Heheh. Makasih ya sonny.

  4. Walau belum pernah ketemu Agung, tapi lewat cerita Soni, cece sperti telah mengenalnya dekat. Sangat kaget mendengar kabar akan kondisi Agung terakhir, takdir merupakan RahasiaNya, inilah yg terbaik untuk beliau, smoga kita smua bisa mengambil dan melanjutkan smua amal andalandan perjuangan beliau. Jasad Agung memang telah pergi, tapi ruh perjuanganny masih hidup di hati mereka yang melanjutkan perjuangan dan cita2 nya.

    Tetap semangat Koson… I Love U

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s